Selamat pagi...semangat senin..
jadi pagi ini adalah diawali dengan gw bete sebete-betenya..hihi tapi bukan itu si yang mau gw ceritain..tapi sebuah inspirasi pagi yang berhasil merubah mood saya pagi ini (ciee karena mood udah bagus lagi, gw berganti saya wkwkwkw)...
Ceritanya begini..
Kantor saya (nggak usah disebut lah ya paling juga dah bisa nebak), in a narrow scope suasananya lagi nggak nyaman. Short explanation adalah team work and team management nggak jalan, supervising gagal total, coordination bubar jalan...semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing, mengamankan diri sendiri semua, work made by order only, no sustainable work. Jadi bisa dibayangin ya, rasanya gimana kerja di lingkungan begitu. Setelah saya amati ternyata ada 3 hal penting yang berpengaruh, yaitu:
Monday, November 14, 2016
Tuesday, September 27, 2016
Kenapa baru sekarang?
Hihihi..sudah saya duga, pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul di hari pertama saya muncul di kantor dengan gigi yang sudah berpagar logam. Ya! di deretan gigi saya yang berantakan terpasang brachet metal dengan karet warna pink (my fav color!). Yah sebenarnya wajar saja si pertanyaan itu muncul karena selama 5 tahun lebih mereka terbiasa dengan saya yang tanpa brachet (alias berantakan dan nggak bebas senyum). Well, let's start my story..
Semua berawal dari puluhan tahun yang lalu (naon sich, padahal ya kira-kira 25 tahun yang lalu haha)..saya nggak ingat persisnya saya umur berapa, tapi kira-kira begini ceritanya... Pergi ke dokter gigi adalah momok yang paling menakutkan bagi saya! Masih ingat dengan jelas, dari rumah si berangkat masih tenang-tenang saja, di ruang pendaftaran yah masih so so lah..di ruang tunggu pun, masih chill meskipun deg-degannya nambah.. Nah, begitu masuk ruang periksa, entah kenapa, pecah tangis saya! dan I clearly remember how afraid I was when seeing the dentist equipment. Saya hampir lari, kalau ayah saya tidak segera memegang tangan saya! Drama banget ya. Mau dibujuk-bujuk kaya apapun, it didn't work! Akhirnya, there was not other way, Ayah saya kemudian duduk di kursi pasien dan saya dipangku! dan Ibu saya pun mengelus-elus tangan saya supaya kalem. Masih drama nangis tuch, mau nggak mau saya pun buka mulut dan dokter pun melakukan tugasnya, mencabut gigi saya. Selesai tindakan, saya pun masih dengan menangis keluar dari kamar periksa. Hihihi apalah rasa malu, bodo amat lah! walaupun abis itu nangisnya udahan. Hahaha...Percaya nggak percaya, drama yang sama terjadi berulang kali setiap saya pergi ke dokter gigi (dokter giginya pun beda-beda, mungkin ganti suasana kali ya). Biarpun saya sudah SD kelas berapa gitu, mungkin kelas 4 atau 5 kali ya..sebenarnya malu si ya, tapi saya masih inget banget tuch disuntik-suntik..wah kejer lagi donk..haha tetep dipegangin sama Bapak si..haha lupa dech masih dipangku atau nggak. Dokter saat itu bilang, dipasang brachet aja biar nggak berantakan. Well, some reasons (nggak tau ya), nggak dipasang juga. Soalnya abis itu nggak ke dokter gigi lagi hahaha..
Semua berawal dari puluhan tahun yang lalu (naon sich, padahal ya kira-kira 25 tahun yang lalu haha)..saya nggak ingat persisnya saya umur berapa, tapi kira-kira begini ceritanya... Pergi ke dokter gigi adalah momok yang paling menakutkan bagi saya! Masih ingat dengan jelas, dari rumah si berangkat masih tenang-tenang saja, di ruang pendaftaran yah masih so so lah..di ruang tunggu pun, masih chill meskipun deg-degannya nambah.. Nah, begitu masuk ruang periksa, entah kenapa, pecah tangis saya! dan I clearly remember how afraid I was when seeing the dentist equipment. Saya hampir lari, kalau ayah saya tidak segera memegang tangan saya! Drama banget ya. Mau dibujuk-bujuk kaya apapun, it didn't work! Akhirnya, there was not other way, Ayah saya kemudian duduk di kursi pasien dan saya dipangku! dan Ibu saya pun mengelus-elus tangan saya supaya kalem. Masih drama nangis tuch, mau nggak mau saya pun buka mulut dan dokter pun melakukan tugasnya, mencabut gigi saya. Selesai tindakan, saya pun masih dengan menangis keluar dari kamar periksa. Hihihi apalah rasa malu, bodo amat lah! walaupun abis itu nangisnya udahan. Hahaha...Percaya nggak percaya, drama yang sama terjadi berulang kali setiap saya pergi ke dokter gigi (dokter giginya pun beda-beda, mungkin ganti suasana kali ya). Biarpun saya sudah SD kelas berapa gitu, mungkin kelas 4 atau 5 kali ya..sebenarnya malu si ya, tapi saya masih inget banget tuch disuntik-suntik..wah kejer lagi donk..haha tetep dipegangin sama Bapak si..haha lupa dech masih dipangku atau nggak. Dokter saat itu bilang, dipasang brachet aja biar nggak berantakan. Well, some reasons (nggak tau ya), nggak dipasang juga. Soalnya abis itu nggak ke dokter gigi lagi hahaha..
Wednesday, September 21, 2016
A Morning Inspiration
Assalamualaikum,semangat pagi semuanya. "Break The Limit"
(Adi W Gunawan)
Beberapa hari yang lalu saya mengendarai mobil menuju Bandung. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.
Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatan nya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya.
Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju diatas itu.
Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.
(Adi W Gunawan)
Beberapa hari yang lalu saya mengendarai mobil menuju Bandung. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.
Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatan nya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya.
Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju diatas itu.
Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Banda Neira - Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti (Live)
I'm just not brave enough to say, I love you.. mungkin memang hal bodoh tapi setidaknya biarkan semua hadir dan muncul dalam ingatanku...

-
Haha judulnya simple banget ya? Karena saya bingung mau ngasih judul tulisan apaan (lagi mentok inspirasinya)..tapi asli kalau keinget bakal...
-
Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, pulang kuliah kok nggak langsung balik lagi ke unit kerja lama malah transit dulu di unit kerja ya...