Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Friday, April 20, 2018

Nemophilia (Japan Trip 2018 Part #2)


Tokyo, 20 April 2020

Hai Ta...

Apa kabar?

Hari ini Adha ngajak jalan ke Ibaraki. 
Sekitar 2 jam perjalanan dari Tokyo.
Naik kereta dari Ueno ke Katsuta, trus nyambung naik bis langsung ke tempat tujuan. 
Aku ngikut-ngikut ajalah Adha ngajak kemana, yang penting jalan, Ta.

Sengaja nggak kubawa kamera DSLR, Ta. 
Bahu rasanya sudah berat untuk digantungkan kamera2 itu.
Cuma bawa hp dan kamera polaroid yang ringan, beli di olshop sebelum berangkat. 

Ternyata, turis lagi banyak-banyaknya, bisnya penuh, Ta.
Antrian beli tiket masuk juga panjang. 
Entah musim liburan, atau memang tempat ini tak pernah sepi.
Tapi memang musim semi, Ta.

Bukankah, semua orang menunggu datangnya musim semi?

Sunday, July 12, 2015

Mengawali jejak di Blue Banana (Part 2) : Visa UK for General Visit (Visa 6 bulan)

Kali ini, saya mau sedikit share pengalaman mengapply visa UK. Yup, visit saya ke Dusseldorf beberapa bulan lalu adalah untuk mengapply visa ke UK. Hehehehe hasrat explore negara2 tetangga nggak bisa dibendung euy :D
Kalau ada yang bertanya, kenapa nggak di Amsterdam aja si applynya? kan study dan tinggal di Belanda. :) ini dia alasannya:

  1. Secara kalkulasi biaya pendaftaran visa, Dusseldorf lebih murah dibandingkan di Amsterdam (jangan tanya kenapa, dari sononya ;) ) untuk Dusseldorf, kemarin sekitar EUR 121, sedangkan di Amsterdam bisa lebih (lupa pastinya)
  2. Memang si transport ke Amsterdam bisa diakalin lebih murah pake group ticket kereta, karena emang ticket kereta di Jerman lebih mahal, tapiiiii...saya pengin ngerasain bedanya kereta di Belanda dan di Jerman (naonseh ini alasannya hahah) Fyi, saya memakai one day train ticket (Schonentag, sekitar EUR 29, lumayan si, tapi pengalaman lebih bernilai hiihihi). Untuk tiket di jerman, jauh lebih murah kalau booking in advance alias jauh-jauh hari melalui website BAHN, semacam KAInya Jerman. Di situ kita bisa memilih berbagai type tiket sesuai kebutuhan kita.
  3. Dusseldorf memiliki bandara internasional yang melayani penerbangan dari dan ke berbagai negara di Eropa, sehingga menjadikan Dusseldorf sebagai salah satu kota terbesar di Jerman. Walaupun saya beberapa kali ke Aachen, tapi rasanya belum sah ke Jerman kalau belum ke kota-kota lainnya di Jerman. Jadi ada alesan kuat saya untuk menyempatkan explore negara tetangga. And that was awesome! nggak salah saya pilih Dusseldorf! jangan kaget ya ketika di sini, jarang ada orang yang bisa berbahasa inggris. Jadi saya cukup mengandalkan google translate dan bahasa tubuh :)
hehhe...ok, sekarang proses applikasinya akan saya jelaskan..

Pertama,

Puasa 19 Jam

Ini adalah pengalaman puasa saya pertama di Belanda. Nggak sangka, di tahun 2015 ini, puasanya bertepatan dengan dimulainya musim panas. Sah sudah, puasa kali ini akan jauh lebih lama dari waktu puasa di Indonesia yang hanya sekitar 14 jam. Ya, waktu puasa di Belanda kali ini adalah 19 jam. Hihihi..sebelumnya, nggak pernah dibayangin si akan seperti apa, yang tergambar di benak saya ya berarti menahan laparnya lebih lama 5 jam. Itu saja. Eh, tapi saya super excited menyambut puasanya loch..penasaran banget, rasanya puasa 19 jam.

Bismillaah, let's begin the story..

Monday, March 9, 2015

Summer on the Early Spring

Summer comes on the beginning of spring... :)


my purple bike :*

Jadi cerita hari ini adalah tentang sepedaan ke St. Pietersberg beberapa waktu lampau. Untuk acara sepedaan ini, saya sebenernya diajak oleh Bu Carla, Agung, Imam, dan Yohanes. Dan rupanya Luc, si care taker housingnya nael ikut juga. Jadi pas lah ada guidenya hihihi. St. Pietersberg ini adalah sebuah desa kecil di perbatasan Belanda, Flanders dan Wallonia. Letaknya tidak jauh dari housing saya di seputaran Brusselseport yang berdasarkan google map, kira2 jaraknya cuma 30 menit naik sepeda. Meeting point yang ditentukan adalah kantor polisi di Prins Bisschopsingel (sebelah Sint Hubertuslaan). Dari sanalah jalur sepedaan akan dimulai. Sebenernya kalau cuma ke fortress Sint Pietersberg itu cuma 15 menit. Tapi kami sengaja mengambil rute memutar melewati perbatasan dengan Belgia. Hitung-hitung sekalian olahraga hahaha. Kira2 jalurnya si begini.

Saturday, February 7, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (part 5): Budapest, Sebuah Catatan Memahami Sejarah Dunia!


Ya, Budapest adalah kota terakhir dalam perjalanan Eastern Europe Trip 2014.  Membayangkan bahwa liburan saya akan segera berakhir dan 2 ujian resit sudah menunggu dan buku2 yang saya bawa hanya sekali dua kali saya baca itu selalu membuat saya panik. Ouch, perut selalu tegang! Hihihi..tapiiiii rasanya terlalu sia-sia kalau selalu cemas. It's time to have a story in this city! Hahaha sungguh sebuah tekad yang besar!

Kami tiba di Budapest siang hari. Hemh..lagi2 agak repot karena harus menukar mata uang ke Hungarian Forint. Tapi nggak seribet di Prague si, karena kami sampainya siang jadi mudah untuk menukar ataupun tarik tunai. Daaan, untuk membeli tiket kereta pun, kami bisa menggunakan kartu debit atau kartu kredit langsung di mesinnya. Saya cuma bisa, "wow!" Hahaha maklum, datang dari sebuah negara yang masih belum kenal kata efisien hihihi. Ok, step pertama adalah mengambil peta atau city map gratis. Sempat bingung juga ketika mencari jalur ke arah hostel yang kami booking. Hihi anton dan putri sibuk ngeliatin peta, saya diem aja. Abis kalau saya ikut2an ngeliat peta, yang ada malah diskusi nggak selese2. Sebenernya, solusi paling cepat buat saya adalah nanya ke polisi atau ke penduduk lokal. Wow! Patut diacungi jempol! Dari semua polisi dan penduduk lokal yang saya tanya, mereka nggak hanya menjelaskan secara verbal, tapi juga langsung assisting by action. Yang terakhir malah, si mbak2 warga lokal menunjukkan dan mengantar kami langsung ke depan penginapan tujuan kami. Wes wes, baik syekalih ya! Coba boleh dipeluk hihihi. Buat yang sering nyasar di tempat asing, pasti tau rasanya ketemu orang-orang baik.

Saturday, January 31, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 4): Terlalu pagi tiba di Praha

photo credits by Anton Tarigan

Pukul 4 dinihari waktu setempat, setelah 10 jam perjalanan dari Warsaw menggunakan Polski Bus, adalah waktu ketika kami tiba di ÚAN Florenc, Prague. Kota tujuan kedua dalam Eastern Europe Trip pada winter 2014. Cuaca dingin yang lumayan menusuk tulang tidak terlalu saya rasakan. Sempat heran, kok ruang tunggunya gini amat ya? kecil dan tampak renovasi sana sini belum selesai. Dan weeeeeeh...toiletnya dikonciiiii...huft huft! apa dech, toilet pake dikunci segala..terlihat beberapa wajah bete penumpang gara-gara ini hahah..Tapi, bersama-sama dengan mayoritas penumpang yang memilih untuk tetap berada di di dalam terminal  menunggu pagi, membuat lelah sedikit berkurang. 

"Fiuuuuuh, still some more destinations ahead..couldn't be more excited than this", batin saya. 

Sunday, January 25, 2015

A Short Escape in Winter 2014 (Part 3): Warsaw, my first romantic city!



Ok, let’s go..
Memulai perjalanan pertama di Eastern Europe Trip adalah Warsaw. Sesuai dengan schedule, tibalah kami di bandara Modlin. Bandara ini bukanlah bandara utama yang melayani peerbangan pesawat2 besar. Modlin Airport hanya melayani pesawat-pesawat kecil seperti Ryan Air yang saya naiki ini. Penerbangan dari Eindhoven memakan waktu 1,5 jam ke Modlin. Kami langsung menuju shuttle bus yang akan mengantar kami ke city centre Warsaw, dimana teman saya Ilham akan menjemput kami. Pembayaran tiket bus sebelumnya kami lakukan via online, jadi ketika akan naik bus kami hanya perlu untuk menunjukkan tiketnya. Perjalanan cukup nyaman dan kebetulan tidak terlalu penuh. Kami sempat bertanya kepada sepasang ayah dan anak apakah bus yang kami tumpangi sudah betul destinasinya. Rupanya sang ayah tidak berbahasa inggris, sehingga jawabannya ditranslate oleh si anak. Inilah kesan pertama tentang Eastern Europe. Bahasa inggris belum menjadi Bahasa sehari-hari di sebagian besar wilayah Eropa Timur. Sangat berbeda dengan Belanda dimana boleh dibilang semua warganya dapat berbahasa inggris. Teman saya, Ilham, bercerita bahwa ketika pertama kali tiba di Warsaw, agak sedikit mengalami kesulitan berkomunikasi karena dia tidak bisa berbahasa Polish dan sebaliknya mereka juga tidak semua bias berbahasa inggris. What an interesting experience!

Banda Neira - Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti (Live)

I'm just not brave enough to say, I love you..   mungkin memang hal bodoh tapi setidaknya biarkan semua hadir dan muncul dalam ingatanku...